Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Anda Sembelit? Atasi dengan Gaya Hidup Sehat
image description

Sembelit bukanlah ‘pengalaman’ yang menyenangkan. Masalahnya, gangguan ini bisa menyerang siapa saja. Bagaimana mengatasinya?

Pernahkah Anda mengalami sulit buang air besar (BAB)? Tahukah Anda, bahwa sulit BAB, BAB keras, dan BAB tidak tuntas adalah kumpulan gejala yang dinamakan sembelit. Sembelit dalam istilah medis disebut sebagai konstipasi. Gejalanya berupa mengedan agar kotoran keluar, kotoran yang keras, dan ketidakmampuan untuk BAB. 1

Siapa saja yang sering terkena sembelit? Sembelit lebih sering terjadi pada lanjut usia (lansia), dan terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan pria. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya sembelit, antara lain aktivitas fisik kurang, depresi, stres, efek samping obat, asupan serat kurang, status sosio-ekonomi, dan tingkat pendidikan.1

Tidak banyak orang tahu bahwa gaya hidup sehat dapat meningkatkan kualitas hidup dan juga mencegah terjadinya sembelit. Gaya hidup yang dimaksud adalah konsumsi air sesuai anjuran (menurut Angka Kecukupan Gizi Indonesia tahun 2013, untuk laki-laki usia produktif sebanyak 2600 ml dan untuk perempuan usia produktif sebanyak 2300 ml per hari), melakukan aktivitas fisik teratur, dan konsumsi serat yang cukup. Konsumsi probiotik dikatakan dapat membantu mengatasi ataupun mencegah terjadinya sembelit.1,2

Mengapa konsumsi air dapat mencegah atau mengurangi sembelit? Hal ini dikarenakan air dapat membantu kotoran melewati saluran pencernaan serta meningkatkan volume dan bentuk kotoran, sehingga mudah dikeluarkan. Beberapa penelitian menunjukkan ada hubungan antara jumlah asupan air terhadap terjadinya sembelit. Semakin sedikit air yang dikonsumsi, semakin mudah terjadi sembelit.2

Sembelit dapat berkurang pada orang dengan aktivitas fisik yang ringan, sedang, dan berat. Aktivitas fisik ringan (seperti aktivitas di kantor) dapat mengurangi rasa perut kembung sedangkan aktivitas sedang (seperti berjalan atau bersepeda) hingga berat (seperti pekerjaan buruh) selama 20–60 menit sebanyak 3–5 kali seminggu dapat memperbaiki keluhan sembelit dan memperbaiki kualitas hidup.1

Serat dapat memperbaiki fungsi saluran cerna dan sembelit. Serat yang dimaksud adalah serat larut yang ada pada buah-buahan dan sayuran. Serat dapat memperbaiki frekuensi BAB, kejadian mengedan, konsistensi kotoran, dan perasaan BAB tidak tuntas pada orang dengan sembelit. Selain buah dan sayuran, serat juga bisa didapatkan pada agar-agar.1

Ada satu makanan tambahan lain yang sering dijumpai di pasar swalayan dan bisa membantu mengatasi sembelit. Makanan ini adalah makanan yang mengandung probiotik (yoghurt yang memiliki label probiotik). Probiotik adalah bakteri baik yang membantu pencernaan usus. Probiotik yang terbukti bisa membantu pencernaan adalah Lactobacillus sp dan Biffidobacterium sp. Probiotik ini banyak ditemukan di produk yoghurt probiotik.3

Beberapa penelitian sejak tahun 2011 membuktikan bahwa probiotik dapat membantu mencegah mengobati sembelit. Salah satunya menunjukkan bahwa yoghurt dengan probiotik Biffidobacterium breve dapat meningkatkan frekuensi BAB anak secara efektif dengan mempertahankan frekuensi BAB tetap konsisten, menurunkan rasa tidak tuntas BAB, dan juga mengurangi nyeri perut. Penelitian terbaru tahun 2017 menunjukkan bahwa yoghurt probiotik bisa mengubah kecepatan pergerakan makanan di usus, sehingga kejadian sembelit bisa dicegah dan diobati. 4,5

Di Indonesia terdapat banyak produk dan merek-merek yoghurt. Kita tinggal memilih sesuai dengan selera kita masing-masing. Pastikan pilih yang memiliki label probiotik agar dapat menikmati manfaat mencegah sembelitnya.

Gaya hidup sehat bisa membantu mengatasi sembelit. Beraktivitas fisik teratur, banyak konsumsi buah dan sayuran, ditambah agar, juga yoghurt probiotik merupakan beberapa gaya hidup sehat yang bisa diterapkan untuk mengurangi sembelit. Perlu diingat, jika cara-cara di atas sudah dicoba namun keluhan sembelit masih ada, segera berobat ke praktik dokter terdekat. Selamat mencoba!

dr. Katya Saphira, dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi

tags: sehat

Berita dari dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi