Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Ayo, Cermat Kenali Makanan Kedaluwarsa!
image description

Masih sering ditemukannya makanan kedaluwarsa di pasaran membuat para konsumen harus bertindak tegas dan cerdas.

Pernah menemukan makanan yang dijual dengan harga lebih murah, tetapi ternyata sudah kedaluwarsa? Masalah ini pernah ditemukan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) saat melakukan inspeksi mendadak. Diskon besar untuk berbagai produk makanan, terutama menjelang hari raya, tertentu sering ditawarkan. Dengan iming-iming ini, banyak yang lupa untuk memerhatikan tanggal kedaluwarsa yang tertera di label makanan.

Pada makanan yang kedaluwarsa, telah terjadi perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki dari sifat asalnya. Perubahan ini dapat terjadi karena kerusakan fisik, kimia, ataupun enzimatis. Sebagai contoh, pada susu yang kedaluwarsa, dapat terbentuk penggumpalan, asam, dan lendir akibat kerja bakteri. Kita dapat mengenali tanda adanya bakteri ini dengan mencium adanya bau busuk dan perubahan warna menjadi kehitaman ketika dibuka.

Konsumsi makanan yang telah mengalami kerusakan tersebut tidak dapat disepelekan. Makanan kedaluwarsa mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, termasuk zat beracun dan mikroba. Jika mikroba ini tertelan, maka mikroba dapat menginfeksi tubuh. Zat beracun juga dapat mengganggu fungsi sel tubuh. Dalam kasus lanjut, makanan kedaluwarsa dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani.

Lalu, bagaimana cara mengenali makanan yang telah kedaluwarsa? Caranya dengan memerhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Senantiasa cek label makanan untuk melihat batas kedaluwarsa. Batas kedaluwarsa adalah batas maksimal suatu produk aman untuk dikonsumsi. Ini adalah bagian yang wajib dicantumkan pada produk obat, obat tradisional, suplemen makanan, dan pangan layak konsumsi. Batas kedaluwarsa ditulis dalam bentuk tanggal, bulan, dan tahun. Terkadang, batas kedaluwarsa bisa saja hanya tercantum dalam bentuk bulan dan tahun. Tapi ini bukanlah masalah. Batas kedaluwarsa ini ditentukan oleh produsen berdasarkan pengujian di laboratorium, sejauh produk tersebut tida berubah kandungan dan manfaatnya sehingga aman untuk dikonsumsi. Selain batas kedaluwarsa, kita dapat menemukan pula tanggal ‘sebaiknya digunakan sebelum’ atau best before. Best before berhubungan dengan kualitas produk, seperti cita rasa, nilai gizi, dan kesegarannya. Tanda ini hanya ditemui pada makanan segar saja. Namun demikian, tanggal best before tidak akan berlaku jika kemasan makanan sudah dibuka, karena adanya kontaminasi udara yang memengaruhi kualitas produk yang akan kita konsumsi.
  2. Cermat melihat perubahan fisik dan kemasan produk. Ketika kita menemukan kemasan yang sudah mengalami perubahan warna, tercium bau tidak sedap, atau bentuk yang berbeda, maka sebaiknya jangan dikonsumsi. Sebagai contoh, pada produk kalengan yang kedaluwarsa, bakteri dapat menimbulkan gas dan membuat kaleng lebih menggembung. Kaleng yang penyok dan berkarat juga sebaiknya dihindari. Selain itu, kita perlu juga mencermati bentuk makanan di dalamnya. Jika ditemukan yang sudah mengalami perubahan warna, bentuk, bau, dan rasa, maka hal ini dapat menjadi tanda-tanda bahwa makanan telah mengalami kerusakan.
  3. Melihat label makanan secara keseluruhan. Produk makanan yang baik seharusnya mencantumkan nama dan alamat produsen yang jelas. Begitu juga dengan bahan baku serta bahan tambahan yang digunakan haruslah dicantumkan. Selain itu, perhatikan pula cara penyimpanan dan penggunaan produk sesuai dengan petunjuk yang tertera di label untuk menjaga kualitas makanan.

Memang tak semua produk makanan yang ditawarkan dengan harga murah pasti sudah kedaluwarsa. Tapi, jauh lebih baik tidak mudah tergiur hingga lupa memerhatikan kelayakannya atau masa kedaluwarsa. Cermatlah dalam berbelanja agar tubuh tetap sehat.

dr. Davrina Rianda, dr. Dyah Eka Andayani, M.Gizi, SpGK