Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Gula Membuat Anak Hiperaktif, Mitos atau Fakta?
image description

Mungkin Anda pernah mendengar mitos gula membuat anak hiperaktif. Apakah hal tersebut benar adanya?

Berita bahwa terlalu banyak mengonsumsi gula berisiko menyebabkan anak menjadi hiperaktif mungkin telah banyak beredar di kalangan masyarakat. Meskipun demikian, kebenaran berita tersebut belum dipastikan kebenarannya.

Anak disebut hiperaktif apabila ia kerap melakukan gerakan yang impulsif, selalu bergerak dan tidak bisa diam, cenderung mengganggu orang di sekitarnya, kerap teralih perhatiannya, dan sulit memusatkan perhatian kepada satu hal tertentu.

Banyak orang mengatakan bahwa anak tidak boleh mengonsumsi terlalu banyak pemanis – baik itu gula alami maupun pemanis buatan seperti aspartam, sakarin, dan sukralosa, karena berisiko menyebabkan anak menjadi hiperaktif.

Berawal Sejak 40 Tahun Lalu

Pengetahuan bahwa gula berisiko menyebabkan anak hiperaktif dipopulerkan oleh dr. Benjamin Feingold, seorang dokter ahli alergi, pada tahun 1973. Ia mengeluarkan kesimpulan bahan makanan tambahan, seperti pengawet dan pewarna makanan dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif.

Oleh karena itu, dr. Benjamin Feingold mengeluarkan ‘Diet Feingold’, yang meniadakan bahan pengawet, pewarna, dan gula dalam makanan anak untuk mencegah anak hiperaktif.

Meskipun teori tersebut sangat meyakinkan – hingga terbawa sampai sekarang, berbagai penelitian yang dilakukan dewasa ini tidak dapat menemukan hubungan antara konsumsi pemanis (baik gula maupun pemanis buatan) dengan anak hiperaktif.

Tetap Harus Dibatasi

Meskipun penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara gula dengan kejadian anak hiperaktif, konsumsi gula pada anak tetap harus dibatasi karena hal lain.

Siapa anak yang tidak suka manis? Tidak dapat dipungkiri, hampir semua anak sangat menyukai makanan dan minuman yang manis. Makanan dan minuman tinggi gula tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan,  di antaranya gigi berlubang.

Selain itu, makanan dan minuman yang manis biasanya mengandung sedikit vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, sementara itu umumnya kapasitas makan anak belum sebanyak orang dewasa. Oleh karena itu, anak berisiko mengalami kekurangan nutrisi.

Makanan dan minuman manis juga mengandung tinggi kalori, sehingga berisiko menyebabkan obesitas pada anak, juga pada dewasa di kemudian hari. Obesitas pun pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

Apa yang Harus Dilakukan?

Hindari memberikan anak makanan dan minuman yang tinggi gula, juga akses kepada makanan dan minuman tersebut.

Untuk anak usia 1-3 tahun, batas maksimal pemberian gula tambahan adalah 4 sendok teh sehari. Sementara untuk anak yang berusia 4-18 tahun, maksimal gula tambahan yang diberikan adalah 6 sendok teh dalam sehari.

Selain itu, utamakan makanan yang kaya akan protein dan serat untuk menunjang kesehatan anak. Anda dapat memberikan berbagai sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan serat anak.

Jadi, hiperaktif atau tidak, konsumsi gula pada anak tetap harus dibatasi, ya.

dr. Karin Wiradarma, dr. Dyah Eka Andayani, M.Gizi, SpGK