Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Bagaimana Jika Anak Anda Alergi Susu Sapi?
image description

Apa yang harus dilakukan jika anak Anda didiagnosis dokter mengalami alergi susu sapi?

Seorang anak dapat mengalami gejala-gejala alergi susu sapi jika sistem kekebalan tubuhnya menganggap bahwa susu sapi adalah sebuah benda asing yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, sistem kekebalan tubuh pun melancarkan serangan terhadap protein susu sapi, yang pada akhirnya menimbulkan gejala-gejala alergi susu sapi.

Prinsip utama dari penatalaksanaan alergi susu sapi adalah dengan menghindari makanan yang mengandung susu sapi dan segala jenis produk turunannya, seperti keju, yogurt, mentega, dan krim. Namun demikian, pemberian makanan dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang tetap harus diperhatikan dengan memberikan makanan pengganti. Dengan demikian, gizi anak Anda pun akan tetap tercukupi meskipun tidak mengonsumsi susu sapi.

Bagi bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, ibu tetap dapat menyusui bayinya dengan memantang segala makanan yang mengandung susu sapi dan produk turunannya. Oleh karena itu, ibu perlu mendapatkan suplementasi kalsium untuk menjaga kandungan kalsium dalam ASI.

Sementara itu bagi bayi yang mendapatkan susu formula, ia harus mengonsumsi susu dengan formula hipoalergenik. Susu formula jenis ini dapat diresepkan oleh dokter Anda.

Yang termasuk ke dalam kelompok tersebut adalah susu hidrolisat ekstensif dan susu formula asam amino, sedangkan susu hidrolisat parsial tidak dapat digunakan untuk terapi. Anak dengan gejala alergi ringan hingga sedang dapat meminum susu formula hidrolisat ekstensif. Namun mereka yang memiliki gejala berat harus mengonsumsi susu formula asam amino.

Bayi dianjurkan meminum susu hipoalergenik tersebut selama enam bulan, untuk kemudian diperiksa kembali oleh dokter. Jika sudah toleran terhadap susu sapi (dapat meminum susu sapi tanpa timbul gejala alergi), bayi dapat meminum susu formula biasa seperti sedia kala. Namun jika gejala alergi masih timbul, ia harus melanjutkan konsumsi susu hipoalergenik selama enam bulan ke depan untuk dites kembali, dan seterusnya.

Bayi usia enam bulan ke atas yang sudah diperkenalkan dengan makanan padat juga harus dijaga makanannya dari segala komponen susu sapi dan turunannya.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh orang tua yang memiliki anak yang alergi susu sapi adalah tingginya biaya untuk membeli susu formula hipoalergenik. Selain itu, rasanya pun tidak senikmat susu formula pada umumnya. Sehingga akan ada kemungkinan anak menolak untuk meminumnya. Untuk itu, perlu disiasati perkenalan susu hipoalergenik sedikit-demi sedikit (awalnya di, hingga anak dapat menerimanya.

Pemberian susu mamalia lain seperti kambing, domba, dan kuda tidak menyelesaikan masalah, karena berisiko terjadi reaksi alergi silang. Susu ini juga tidak dapat diberikan kepada bayi di bawah usia satu tahun, kecuali telah dibuat menjadi susu formula.  Sampai saat ini, susu formula di Indonesia baru dibuat dari bahan dasar susu sapi.

Sebagai alternatifnya, orangtua dapat memberikan susu formula kedelai (soya) bagi bayi yang sudah berusia enam bulan. Selain harganya yang relatif lebih murah dari susu hipoalergenik, rasanya pun lebih nikmat dan dapat diterima anak. Kandungan nutrisinya pun tidak kalah dengan susu formula yang terbuat dari susu sapi. Meskipun demikian, memang ada sebagian kecil anak yang tetap alergi terhadap susu formula kedelai ini.

dr. Karin Wiradarma, dr. Dyah Eka Andayani, M.Gizi, SpGK