Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Heboh Diet Keto, YA ATAU TIDAK?
image description

Isu berat badan selalu menjadi topik yang menarik. Tren terkini menawarkan diet keto sebagai solusi untuk menurunkan berat badan.

Diet rendah lemak untuk menurunkan berat badan sudah dianggap ketinggalan zaman. Asumsi bahwa lemak adalah musuh telah dibantah oleh diet keto yang saat ini sedang ramai dibicarakan dan tentunya dicoba. Sebenarnya apa itu diet keto?

APA ITU DIET KETO?

Mulanya, pada awal abad ke-20, diet ketogenik digunakan sebagai terapi pada kasus epilepsi. Gejala epilepsi dapat berkurang ketika tubuh dipaksa memetabolisme lemak untuk menghasilkan energi di saat kehabisan glukosa. Akhirnya pada tahun 1970an, diet ketogenik ini menjadi semakin popular karena memberi efek penurunan berat badan dan manfaat kesehatan lainnya. [2]

Diet ketogenik sebenarnya merupakan diet rendah karbohidrat yaitu 20–50 gram/hari atau <10% dari total 2000 kalori/hari. Sedangkan menurut pola gizi seimbang yang dikeluarkan WHO, 55% kebutuhan kalori semestinya didapat dari karbohidrat. Kadar karbohidrat yang sangat rendah pada diet ketogenik dapat menginduksi kondisi ketosis, yaitu suatu kondisi di mana tubuh menjadikan lemak sebagai sumber energi karena kehabisan asupan glukosa. [1]

Tidak diragukan lagi bahwa diet ketogenik terbukti efektif menurunkan berat badan, namun mekanisme yang mendasarinya masih merupakan spekulasi. [3][4][5] Maraknya diet ketogenik ini memunculkan pertanyaan, di mana profil lipid menjadi perhatian utama. Opini yang beredar adalah diet rendah karbohidrat dan tinggi protein lemak ini berpotensi meningkatkan kolesterol LDL dan trigliserida. Isu ini pun menjadi lebih menarik terutama untuk kondisi obesitas. [6]

MANFAAT DIET KETO

Suatu studi meta-analisis meneliti efek diet ketogenik terhadap penurunan berat badan dibandingkan dengan diet rendah lemak dalam kurun waktu 12–24 bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa diet ketogenik memberi hasil penurunan berat badan yang lebih signifikan dibandingkan dengan diet rendah lemak.

Selain itu didapatkan pula penurunan kadar trigliserida dan peningkatan kadar kolesterol HDL yang lebih bermakna. Sedangkan untuk kolesterol LDL, kadarnya meningkat bermakna pada kelompok diet ketogenik. [6] Diet ketogenik juga dilaporkan dapat memperbesar ukuran dan volume partikel kolesterol LDL yang dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan partikel LDL yang kecil. [7]

Diet ketogenik dapat menurunkan nafsu makan dan meningkatkan total kalori yang dibakar setiap harinya karena peningkatan metabolisme. [5] Studi-studi yang melihat efek diet ketogenik pada pasien dengan obesitas dan diabetes melitus tipe 2, menunjukkan hasil perbaikan pada kontrol gula darah. [8][9]

Tingginya benda keton yang dihasilkan pada kondisi ketosis berkorelasi kuat dengan rendahnya produksi glukosa dari hati, di mana hal ini memberi efek kontrol glikemik dan perbaikkan sensitivitas insulin pada pasien diabetes melitus. [10] Selain itu, rendahnya kadar insulin yang dihasilkan pada kondisi ketosis akibat rendahnya kadar glukosa darah akan memberikan efek penurunan pembentukan jaringan lemak dan meningkatkan pembakaran lemak. [5]

EFEK SAMPING DIET KETO

Walaupun diet ketogenik memiliki banyak keuntungan, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian saat menjalani diet ini. Untuk mencapai kondisi ketosis, tubuh memerlukan waktu adaptasi kurang lebih 2 minggu. Pada fase ini, tubuh akan mengalami perubahan metabolisme dan mengakibatkan ketidaknyamanan.

Dehidrasi dan turunnya kadar gula darah merupakan komplikasi awal yang paling sering terjadi saat memulai diet ini. Komplikasi lain yang juga umum terjadi adalah gangguan saluran cerna, seperti mual muntah, diare dan konstipasi. Mual muntah dan diare dapat disebabkan oleh intoleransi terhadap diet. Sedangkan konstipasi dapat terjadi akibat kurangnya asupan serat. [11]

Diet ketogenik dapat sulit untuk dilakukan karena restriksi sebagian besar makanan berkarbohidrat. Selain itu, sangat disayangkan banyak orang yang pada akhirnya memilih makanan dengan kandungan lemak yang tidak sehat. Hal ini malah akan menjadi bumerang bagi profil lipid dan penyakit-penyakit metabolik. [11]

Beberapa komplikasi dari diet ketogenik jangka panjang ditemukan pada pasien-pasien epilepsi yang memang membutuhkan diet ketogenik. Di antaranya hepatitis yang disebabkan oleh kegagalan oksidasi asam lemak, peningkatan kadar asam urat, dan defisiensi berbagai mineral seperti natrium, magnesium, selenium yang tentunya dapat membahayakan. Ditemukan pula kejadian osteoporosis akibat malnutrisi defisiensi vitamin D, terbentuknya batu ginjal, serta dapat menyebabkan gangguan jantung akibat defisiensi mineral. [11][12][13]

Pada akhirnya dibutuhkan jawaban atas pertanyaan apakah diet ini baik atau tidak. Data-data hasil studi yang banyak berkembang tentunya memiliki berbagai keterbatasan. Masing-masing studi menerapkan regimen diet ketogenik yang berbeda-beda terutama dalam hal komposisi lemak. Selain itu, studi jangka panjang yang ada saat ini masih terbatas dalam jangka waktu 12–24 bulan. Jadi cukup sulit untuk dapat mengatakan efikasi dan keamanan diet ketogenik ini.

Diet ketogenik memang efektif dalam menurunkan berat badan, namun risiko jangka panjang yang ada masih belum dapat dipastikan. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis gizi klinik bila berencana menjalani diet ketogenik. Diperlukan pemeriksaan awal termasuk pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah orang yang akan melakukannya merupakan kandidat yang tepat untuk menjalani diet ketogenik. Selain itu, kontrol dan pemantauan ketat oleh dokter spesialis gizi klinik sangat penting untuk dapat menjalani diet dengan komposisi yang tepat serta meminimalisir efek samping yang mungkin dapat terjadi.

dr.Evania Astella Setiawan, Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc

Berita dari Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc