Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Hati-Hati Terjebak Diet Yoyo
image description

Mencoba berbagai jenis diet demi memiliki tubuh ideal adalah hal yang banyak dilakukan saat ini. Tapi berhati-hatilah agar tidak terjebak dalam diet yoyo.

 

Hampir semua orang mendambakan tubuh ideal. Tak sedikit yang mencoba mewujudkan impian tersebut dengan melakukan berbagai cara menurunkan berat badan yang banyak ditawarkan di masyarakat. Ada yang makan hanya pada jam-jam tertentu, makan makanan tertentu saja, bahkan ada yang rela merogoh kantong demi mendapatkan meu tertentu dari berbagai katering sehat yang saat ini tengah naik daun.

BENAR ATAU SALAH?

Usaha-usaha tersebut tidak sepenuhnya salah. Faktanya tidak sedikit yang akhirnya berhasil menurunkan berat badan, bahkan sampai belasan kilogram dalam beberapa hari. Lalu apakah berat badan akan stabil setelah mencapai target?

Persoalannya adalah tidak selalu demikian. Tanpa sadar, sering kali kita tidak lagi menjaga pola makan setelah berat badan yang diinginkan tercapai. Bahkan terkadang muncul keinginan untuk ‘balas dendam’ setelah sebelumnya mati-matian mengurangi makan. Akhirnya berat badan pun kembali. Pola penurunan berat badan yang dipakai pun sering kali berganti-ganti sesuai dengan apa yang sedang menjadi tren. Dan pola ini terus berulang pada kebanyakan orang.

Berat badan yang naik kembali setelah berhasil turun beberapa kilo disebut dengan efek yoyo. Fenomena ini sering terjadi pada orang dengan berat badan lebih dan obesitas. Mereka biasanya mengurangi asupan kalori dan frekuensi berolah raga. Setelah tercapai berat badan ideal, pola makan tidak diatur lagi sehingga berat kembali naik. Hal ini terjadi berulang-ulang.

DIET KETOGENIK

Saat ini sedang marak tentang diet ketogenik. Diet ini dulu dipakai untuk pasien anak dengan epilepsi. Diet ketogenik memakai lemak dan protein sebagai sumber tenaga, menggantikan peran karbohidrat. Diet ini dapat menurunkan berat badan secara cepat. Namun sayangnya, diet ketogenik sebenarnya tidak baik dilakukan dalam jangka waktu lama. Sebab hal ini dapat meningkatkan kadar asam urat darah akibat pemecahan otot dalam jumlah banyak, menyebabkan batu empedu dan juga gangguan fungsi hati maupun ginjal.

Seharusnya saat berat badan sudah tercapai, kita dapat mengganti diet ketogenik dengan pola diet gizi seimbang dan aktivitas fisik. Namun banyak orang yang tidak menjaga pola makannya dan akhirnya menyebabkan berat badan kembali naik (efek yoyo).

Efek yoyo ini dapat kita hindari dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Ubah cara berpikir

Postur tubuh langsing bukanlah satu-satunya tolak ukur tubuh ideal. Pantau berat dan tinggi badan, hitung indeks massa tubuh –apakah masuk dalam kategori ideal atau tidak. Angka indeks massa tubuh dapat diketahui dengan cara berat badan dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Hasilnya masuk dalam kategori ideal bila di dalam kisaran 18,5–24,9 kg/m2. Hal yang perlu diingat adalah memiliki badan yang sehat sebagai target utama, bukan badan yang langsing apalagi kurus. Untuk itu pola makan sehat dan frekuensi berolah raga harus tetap dilakukan walaupun berat badan ideal sudah tercapai.

  1. Tak perlu mencoba semua jenis diet

Diet adalah pola makan yang mempunyai asupan gizi seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh kita. Hal yang diperhatikan adalah apakah makanan dan minuman yang dikonsumsi sudah memenuhi kebutuhan makro dan mikronutrisi. Kebutuhan nutrisi tiap orang dapat berbeda-beda tergantung dari jenis kelamin, usia, tahap fisiologis, dan aktivitas. Pola diet yang dapat menurunkan berat badan dengan cepat perlu dihindari karena dapat mengganggu metabolisme tubuh.

  1. Memeriksakan kesehatan tubuh (medical check-up)

Penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Hasil pemeriksaan dapat menjadi salah satu tolak ukur apakah kebutuhan gizi kita sudah terpenuhi atau malah melebihi dari yang dibutuhkan. Hal ini juga dapat mencegah timbulnya penyakit.

Jangan mudah terpengaruh oleh maraknya pola diet yang beredar di masyarakat belakangan ini yang tidak mengutamakan kesehatan. Pola makan sehat dan olah raga teratur adalah hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kesehatan tubuh kita. Jangan lupa, selalu sayangi tubuh!

dr. Annisa Nurul Kirana, dr. Erfi Prafiantini, MKes

Berita dari dr. Erfi Prafiantini, MKes