Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
collaboration with Departemen Ilmu Gizi FKUI dan RSCM


Karbohidrat, Haruskah Dimusuhi Penderita Diabetes?
image description

Banyak orang mengatakan bahwa penderita diabetes tidak boleh mengonsumsi karbohidrat. Benarkah demikian?

Bagi penderita diabetes, makan bukanlah hal yang bisa diremehkan. Bahkan tak sedikit rumor mengenai makanan, khususnya makanan pantang, bagi penderita  diabetes yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu rumor yang banyak dikaitkan dengan penderita diabetes adalah agar menghindari karbohidrat. Benarkah rumor ini?


Karbohidrat merupakan sumber energi utama dan memberikan setengah atau lebih dari total pemasukan kalori. Karbohidrat merupakan nutrisi penting yang baik untuk kesehatan dan diet yang sehat dan seimbang. Jenis dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi memang bisa membuat perbedaan pada kadar glukosa darah dan manajemen diabetes. Namun ketika sampai pada karbohidrat dan diabetes, ada begitu banyak pandangan yang saling bertentangan yang dapat membingungkan.(1)

KARBOHIDRAT DAN ORANG DENGAN DIABETES

Karbohidrat secara garis besar terbagi menjadi 2 kelas utama, yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana terdiri dari monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida (laktosa, sukrosa, maltosa), yang apabila dikonsumsi dapat meningkatkan kadar glukosa darah secara cepat. Sedangkan karbohidrat kompleks yang terdiri dari oligosakarida (raffinose, stachyose, verbacose) dan polisakarida (starch, glikogen, serat), tidak meningkatkan kadar glukosa darah secara cepat, bahkan serat mempunyai efek yang baik untuk kesehatan.(1)


Semua karbohidrat yang dikonsumsi akan diubah menjadi glukosa. Pada seseorang tanpa diabetes, tubuh memproduksi insulin secara otomatis untuk mengatasi glukosa yang masuk ke dalam darah. Prinsip yang sama juga berlaku bagi penderita diabetes. Tetapi karena tubuh tidak menghasilkan insulin (diabetes tipe 1) atau ‘tidak cukup’ menghasilkan insulin (diabetes tipe 2), maka diperlukan insulin (baik dengan suntikan atau pompa) ataupun obat-obatan diabetes oral untuk membantu menurunkan glukosa dalam darah setelah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat.

Penderita diabetes perlu mengontrol kadar glukosa dalam darah untuk mencegah timbulnya berbagai komplikasi. Contohnya komplikasi penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, kerusakan retina mata, dan luka pada kaki.(2)

BOLEHKAH DIKONSUMSI PENDERITA DIABETES?

Karbohidrat perlu untuk dikonsumsi sebagai sumber energi utama dan diet seimbang dan sehat. Sebab tubuh memerlukan karbohidrat untuk membuat organ tubuh berfungsi. Banyak yang mengatakan bahwa yang terpenting dalam mengonsumsi karbohidrat adalah memerhatikan Glikemik Indeks (GI) dan Glikemik Load (GL)nya. 
Glikemik Indeks (GI) adalah rangking seberapa cepat setiap makanan/ minuman berbasis karbohidrat membuat kadar glukosa darah meningkat setelah memakannya dibandingkan dengan makanan referensi, biasanya glukosa atau roti putih. Sedangkan Glikemic Load (GL) memperhitungkan GI dari makanan dan jumlah karbohidrat yang dimakan. Hubungan antara GI dan GL tidak langsung. Misalnya, wortel mempunyai GI yang tinggi namun rendah GL karena kandungan karbohidrat dalam wortel hanya 6gr.(1), (3), (4)


Glikemik Indeks (GI) dan Glikemik Load (GL) memang dapat bermanfaat untuk membantu mengelola diabetes. Namun tidak semua makanan rendah GI dan GL adalah pilihan yang sehat, karena makanan rendah GI dan GL dapat memiliki kadar energi tinggi dan mengandung lemak tinggi yang memperlambat penyerapan karbohidrat. Menggabungkan makanan dengan GI yang berbeda mengubah keseluruhan GI makanan. Sifat fisik dan kimia makanan, metode dan lama pemasakan, serta suhu makanan ketika dikonsumsi dapat membuat variabilitas pada GI dan GL Selain itu faktor variasi inter dan intra individu juga dapat mempengaruhi respons glikemik terhadap makanan.(3), (4)
Meta analisis menyarankan makanan dengan GI atau GL rendah dapat memberikan keuntungan dalam kontrol glikemik pada manajemen diabetes. Namun makan karbohidrat untuk mengendalikan diabetes bukan hanya tentang penilaian GI dan GL. Ketika konsep GI atau GL digunakan untuk memandu pemilihan makanan, harus digunakan dalam konteks indikator nutrisi lainnya.(3), (4) 


Literatur mengenai GI dan GL pada penderita diabetes pun menunjukkan hasil yang beragam.(5) Pengetahuan mengenai keberagaman makanan dan kualitas makanan, misalnya kandungan protein, lemak, tipe lemak, densitas energi, kandungan serat dan ukuran penyajian juga harus dipertimbangkan.(3), (4) Pikirkan gambaran yang lebih besar dan pilihlah makanan yang rendah lemak jenuh, garam dan gula sebagai bagian dari diet seimbang dan sehat.


JUMLAH YANG HARUS DIKONSUMSI

Penelitian mengenai jumlah asupan karbohidrat yang ideal untuk orang dengan diabetes belum dapat disimpulkan. Namun monitoring asupan karbohidrat dan mempertimbangkan respons glukosa darah terhadap makanan berkarbohidrat merupakan kunci untuk memperbaiki kontrol glukosa setelah makan.(2), (5) 
Peran dari diet rendah karbohidrat pada penyandang diabetes masih belum jelas karena luasnya definisi diet rendah karbohidrat dan perbaikan hanya didapatkan pada jangka pendek, dan cenderung tidak dapat dipertahankan untuk jangka panjang. Genetik dan faktor lainnya juga memiliki pengaruh pada respons individu dengan diabetes.(2), (5), (6)
Orang dengan diabetes tipe 1 atau 2 yang menggunakan insulin waktu makan harus menyesuaikan dosis insulin dengan asupan karbohidrat. Penting diberikan edukasi dan konseling bagi penderita diabetes untuk memahami hubungan antara asupan karbohidrat dan kebutuhan insulin dan juga untuk membantu merencanakan makanan yang memperkirakan porsi karbohidrat. 


Tidak ada pola makan one-size-fits all untuk penderita diabetes. Perencanaan makanan harus bersifat individual.(2), (5) Jika diperlukan dapat melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis gizi klinik untuk membantu penyandang diabetes dalam mengelola diet yang baik.


dr. Nita, Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc

Berita dari Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc