Preloader
"Informasi Kesehatan dan Nutrisi Tepercaya"
part of Departemen Gizi FKUI dan RSCM


Ayo, Turunkan Risiko Kanker Usus Besar dengan Konsumsi Serat!
image description

Konsumsi serat secara rutin dapat menurunkan risiko kanker usus besar.

Kanker usus besar merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang dihadapi penduduk Indonesia. Saat ini, kanker usus besar menempati peringkat ketiga terbanyak penyakit kanker di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2012, setiap 12,8 orang dari 100.000 orang dewasa di Indonesia menderita kanker usus besar. Di dunia, angka kejadian baru kanker usus besar diperkirakan melebihi 2,2 juta kasus baru dan akan menyebabkan 1,1 juta kematian pada tahun 2030.  

Apakah Kanker Usus Besar dapat Dihindari?

Salah satu faktor yang memengaruhi kejadian kanker usus besar adalah faktor diet. Perubahan pola konsumsi makanan di masyarakat seperti cara makan orang barat (westernisasi) yang tinggi lemak dan rendah serat, diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kejadian kanker usus besar. Konsumsi banyak daging merah (lebih dari 500 gram per minggu), daging olahan (sosis, daging kalengan), serta pemasakan dengan suhu tinggi dalam waktu lama (grilled/ memanggang langsung di atas api) akan meningkatkan risiko terjadinya kanker usus besar.

Namun demikian, sebenarnya ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan risiko terjadinya kanker usus besar. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Salah satu bahan makanan yang berperan penting dalam pencegahan kanker usus besar adalah serat.

Penelitian EPIC yang dilakukan di Eropa mendapatkan hasil yang menarik, yaitu penurunan risiko terjadinya kanker usus besar sebesar 42% pada yang mengonsumsi 35 gram serat per hari dibandingkan dengan yang mengonsumsi 15 gram serat per hari. Penelitian lain di Amerika juga mendapati bahwa konsumsi serat dalam jumlah sedikit (kurang dari 10 gram per hari), memiliki risiko terkena kanker usus besar 18% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi serat dalam jumlah yang lebih tinggi (10-15 gram per hari). Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, maka konsumsi serat diduga dapat menurunkan risiko terjadinya kanker usus besar.

Manfaat Serat Bagi Usus Besar

Salah satu fungsi serat yang kita ketahui adalah mempersingkat waktu transit kotoran di usus, sehingga toksin yang terbentuk dan yang diserap oleh usus pun akan lebih sedikit. Selain itu, konsumsi serat (terutama serat tidak larut) dapat menyerap zat karsinogenik (zat yang menyebabkan kanker) sehingga mencegah interaksi zat tersebut dengan permukaan sel usus besar. Hal-hal ini lah yang diperkirakan menjadi salah satu mekanisme serat dalam menurunkan risiko kanker usus besar.

Ayo Makan Serat

Berdasarkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan, orang dewasa membutuhkan serat pangan sebesar 30-35 gram per hari (setara dengan 5 mangkok sayur dan buah). Namun, hasil riset Puslitbang Gizi Depkes RI tahun 2001 menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Indonesia hanya mengkonsumsi 10,5 gram serat per hari. Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 93,5% penduduk Indonesia berusia diatas 10 tahun kurang mengonsumsi sayur dan buah. Angka tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya serat bagi kesehatan.

Untuk menjaga kesehatan, khususnya dalam hal menurunkan risiko kanker usus besar, perlu ditambahkan serat ke dalam menu makanan sehari-hari. Beberapa contoh bahan makanan yang mengandung serat adalah gandum utuh, biji-bijian, sayur-sayuran hijau, serta buah-buahan. Konsumsi gandum utuh dapat diperoleh dari sereal, roti gandum, dan oatmeal, yang dapat digunakan sebagai menu sarapan. Jangan lupa selalu sertakan sayur dan buah dalam menu makanan sehari-hari untuk hidup yang lebih sehat!

 

Tag: serat, kanker, usus besar, kanker usus besar

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Aune D, Chan DSM, Lau R, Vieira R, Greenwood DC, Kampman E, et al. Dietary Fibre, Whole Grains, and Risk of Colorectal Cancer: Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis of Prospective Studies. BMJ. 2011 Nov; 343: 6617–6617.

  2. Gropper SS, Smith JL. Advanced Nutrition and Human Metabolism. 6th ed. Belmont, USA: Wadsworth, Cengage Learning; 2013. p. 124-125.

  3. Komite Penanggulangan Kanker Nasional (Indonesia). Kanker Kolorektal. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2017.

  4. Bingham SA, et al. Dietary fibre in food and protection against colorectal cancer in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC): an observational study. The Lancet. 2003 May; 361: 1496-1501.

  5. Aykan NF. Red Meat and Colorectal Cancer. Oncol Rev. 2015; 9(1): 288.

tags: